Seksualitas Remaja

SEKSUALITAS REMAJA
————————–

A. OVERVIEW

Batasan usia remaja adalah antara 12 tahun sampai dengan 21 tahun (Haditono, 1998). Pada usia remaja, seseorang akan banyak mengalami badai dan tekanan. Aspek perkembangan yang menonjol pada usia ini adalah adanya perubahan bentuk tubuh, meningkatnya tuntuan dan harapan sosial, tuntutan kemandirian dari orangtua, meningkatnya kebutuhan akan berhubungan dengan kelompok sebaya, mampu bersikap sesuai dengan norma sekitar, kompeten secara intelektual, mengembangkan tanggung jawab pribadi dan sosial, serta belajar mengambil suatu keputusan.

Tidak kalah penting dari tugas pcrkembangan di atas adalah adanya kesadaran pada remaja untuk mempelajari segala seluk beluk yang berkaitan dengan masalah seksual. Bebcrapa tema yang berkaitan dengan perkembangan seksual remaja adalah sebagai berikut:

1. Upaya untuk mengkaitkan antara perkembangan pubertal, body image, dan self image. Remaja pada
umumnya peka dan sangat perhatian terhadap daya tarik pribadi. Mereka akan selalu memperhatikan
penampilannya, bentuk tubuhnya, wajahnya, dan penerimaannya terhadap diri sendiri. Hal ini akan
mengarahkan remaja pada terciptanya body image yang kemudian tertuju pada self image. Melalui
self image ini akan berdampak pada keyakinan diri remaja dalam proses berinteraksi sosial dengan
lingkungan sekitarnya.

2. Minat untuk mempelajari tubuh sendiri, respon seksual, dan kebutuhannya. Ketidaktahuan remaja
bahwa kemasakan hormon seksual akan memiliki implikasi terhadap reasi-reaksi tubuh yang muncul
saat remaja putri mengalami menstruasi dan laki-laki mengalami mimpi basah. Adanya kemasakan
hormon seksual ini mencemaskan remaja terhadap permasalahan yang berkaitan dengan organ
seksualnya. Ada reaksi seksual tertentu saat remaja putri menggunakan pembalut untuk pertama
kali, sedangkan pada remaja pria dibingungkan dengan ukuran alat kelaminnya yang kemudian dicoba
untuk diukur kenormalainnya dalam segala dimensi. Pada saat ini juga remaja sudah mampu
menghayati makna rangsangan seksual terlepas dari apakah rangsangan seksual tersebut berasal
dari proses persentuhati dengan lawan jenis (sosio-erolik) atau akibat berfantasi (auto-erotik).

3. Pencarian idetititas diri dengan fokus pada pemenuhan tuntunan sosial terhadap peran jenis kelamin
dan upaya untuk pemantapan orientasi seksual pribadi. Pusat dari proses perkembangan remaja
adalah supaya proses pencarian. Ada tuntunan sosial yang dicoba dipelajari remaja mengenai apa
yang seharusnya dilakukan oleh remaja putri dan putra dalam memenuhi harapan perilaku sosial.
Sedangkan tingkah laku seksual sendiri pada umumnya tertuju pada upaya untuk menunjukan pada
teman sebaya agar dirinya dapat diterima. Dan biasanya tingkali laku seksual tersebut tidak terfokus
pada “actual sexual desire” (penyaluran nafsu seksual).

4. Mempelajari hubungan seksual dan interaksinya dengan lawan jenis berupa keterikatan hubungan,
percintaan, atau komitmen. Pada usia remaja inilah seseorang mulai mengembangkan minat
heterosexualnya. Dimulai dari keterdekatan hubungan dalam organisasi sekolah osis, olahraga, seni,
kemudian berlanjut keterikatan antar dua remaja yang mengembangkan hubungan emosional sccara
intens, rutin, dan bertanggung jawab.

5. Mengembangkan sistem nilai seksual pribadi. Sistem nilai seksual berkaitan dengan kesadaran remaja
mengenai siapa dirinya. Dengan mengenal siapa dirinya, remaja mengembangkan sikap dan perilaku
sebagaimana konsep diri yang terbentuk. Hal ini kemudian berkaitan dengan cara remaja memilih
sikap dan perilaku pasangannya sesuai dengan kondisi diri remaja sendiri.

B. ASPEK PSIKOSEKSUAL REMAJA

Perkembangan seksual remaja dapat ditelusuri melalui tiga aspek yang mendukung, yaitu:

1. Seksual fantasi.
Seksual awal remaja biasnya tidak lepas dari upaya remaja untuk berfantasi mengenai segala seluk beluk masalah seksual sampai dengan mimpi basah. Ada berbagai alasan mengapa remaja melakukan fantasi seksual, yaitu: untuk menikmati aktivitas seksual secara pribadi untuk menggantikan penyaluran dorongan seksual secara nyata, untuk mencoba-coba membangkitkan kepuasan seksual, dan untuk latihan sebelum perilaku seksual tersalurkan secara nyata. Yang jelas fantasi seksual ini berguna bagi eksistensi perilaku seksual remaja dimasa dewasa nanti, dan dapat menimbulkan rasa percaya diri remaja saat hubungan seksual yang sesungguhnya dilakukan.

2. Indepensi.
Keterdekatan remaja dengan kelompok bermainnya sangat membantu dalam upaya mendapatkan support dan bimbingan dari perilaku yang dilakukan. Walaupun tidak dipungkiri bahwa kelompok bermain itu sendiri memiliki pola aturan itu spesifik, dan tuntunan perilaku yang dikehendaki. Namun remaja lebih memilih teman sebayanya sebagai pelarian dari keterikatan dengan orang tua. Jadi kemandirian yang ditunjukan oleh remaja sebenarnya masih butuh topangan bimbingan. Remaja umumnya menentang larangan orang tua mengenai perilaku seksual bebas. Masalah kebebasan seksual inilah yang seringkali dijadikan senjata bagi remaja untuk melarikan diri dari ikatan orang tua.

3. Reaksi orang tua.
Sikap orang tua terhadap masalah seksual sangat berpengaruh terhadap sikap seksual remaja. Bila orang tua mengagungkan keperawanana maka biasanya anaknya akan memiliki nilai yang sama mengenai keperarawanan. Walau pun tidak semua orang tua memiliki sikap yang kaku dan keras terhadap perilaku seksual terhadap remajanya, namun hampir sebagian besar orang tua tidak mau membiarkan anaknya memiliki sikap seksual yang bebas.

C. POLA-POLA PERILAKU SEKSUAL REMAJA

1. Masturbasi.
Ada perbedaan persentase antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan tindakan masturbasi. Hampir 82% dari laki-laki usia 15 tahun melakukan masturbasi, sedangkan hanya 20% dari perempuan usia 15 tahun yang melakukan masturbasi. Perilaku masturbasi ini sendiri secara psikologis menimbulkan kontroversi perasaan antara perasaan “bcrsalah” dan perasaan “puas”. Masturbasi itu sendiri bila dilakukan secara proporsional sebenarnya memiliki beberapa nilai positif, yaitu: melepaskan tekanan seksual yang menghimpit, merupakan eksperimen seksual yang sifatnya aman; untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam membuktikan kemampuan seksualnya; mengendalikan dorongan seksual yang tidak terkontrol; mengatasi rasa kesepian; dan memulihkan stress dan tekanan hidup.

2. Petting.
Definisi petting adalah upaya membangkitkan dorongan seksual antar jenis kelamin dengantanpa melakukan tindakan intercourse. Usia 15 tahun ditemukan bahwa 39 remaja perem[uan melakukan petting, sedangkan 57% remaja laki-laki melakukan petting.

3. Oral-genital seks.
Tipe ini saat sekarang banyak dilakukan oleh remaja untuk menghindariterjadinya kehamilan. Tipe hubungan seksual model oral-genital ini merupakan alternatif aktivitas seksual yang dianggap aman oleh remaja masa kini.

4. Sexual Intercourse.
Ada dua perasaan yang saling bertentangan saat remaja pertama kali melakukan seksual intercourse. Pertama muncul perasaan nikmat, menyenangkan, indah, intim dan puas. Pada sisi lain muncul perasaan cemas, tidak nyaman, khawatir, kecewa dan perasaan bersalah. Dari hasil penelitian tampak bahwa rmaja laki-laki yang paling terbuka untuk menceritakan pengalaman intercoursenya dibandingkan dengan remaja perempuan. Sehingga dari data tampaknya frekuensi untuk melakukan hubungan seksual intercourse lebih banyak terjadai pada laki-laki dibandingkan dengan remaja perempuan.

5. Pengalaman Homoseksual.
Adakalanya perilaku homoseksual bukan terjadi pada remaja yang orientasi seksualnya memang homo, namun beberapa kasus menunjukan bahwa homoseksual dijadikan sebagai sarana latihan remaja untuk menyalurkan dorongan seksual yang sebenarnya dimasa yang akan datang. Pada remaja yang memiliki orientasi seksual homo, biasanya sejak dini melakukan proses pencarian informasi mengenai kondisi yang menimpa dirinya. Informasi bisa diperoleh dari bacaan, sesama teman homo, atau justru sangat ketakutan dengan kondisi dirinya sehingga mencoba-coba melakukan hubungan scksual secara hetero. Tidak mudah bagi remaja jika ia mengetahui bahwa orietitasi seksualnya bersifat hetero, sebab pada dirinya kemudian akan timbul konflik yang yang menyangkut nilai-nilai kultural mengenai hubungan antar jenis.

6. Efek Aktifitas sesual.
Ada bahaya personal dan sosial yang mengancam remaja bila melakukan aktivitas seksual secara salah. Bahaya tersebut adalah: terjangkitnya penyakit HIV/AIDS, kehamilan tidak dikehendaki, menjadi ayah atau ibu di usia sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: